An edition of Booming Terbang (2009)

Booming Terbang

Nearby Libraries

My Reading Lists:

Create a new list


Last edited anonymously
July 20, 2011 | History
An edition of Booming Terbang (2009)

Booming Terbang

Era munculnya penerbangan ekonomis di Indonesia
Dalam era globalisasi ekonomi termasuk didalamnya kebijakan open sky policy di hampir semua negara dewasa ini secara langsung akan mempengaruhi perkembangan dalam dunia angkutan teranspotasi udara , dimana tingkat persaingan berada dalam situasi hiperkompetitif. Untuk mengimbangi percepatan perubahan sistim perdagangan dunia maupun Nasional maka diperlukan pula perubahan dalam sistim angkutan utamanya angkutan udara baik perubahan perilaku pelanggan apakah dalam hal waktu dan kecepatan dan pilihan harga. Dengan semakin pesatnya arus perubahan, maka sangat diperlukan suatu terobosan guna mengantisipasi persaingan dan maraknya perusahaan maskapai asing yang masuk dalam kancah persaingan didalam Negeri. Untuk itu perlu disusun suatu strategi pemasaran termasuk di dalamya aspek pelayanan yang paling baik untuk dapat mempertahankan pelanggan karena tak ada satupun bisnis yang bisa bertahan tanpa adanya pelanggan yang puas. Hanya produk yang kompetitif dan bermutu tinggi memenuhi kegunaan dan kebutuhan konsumen yang dapat bertahan di pasar. Perusahaan sebagai penjual produk jasa angkutan harus sanggup menawarkan dengan mutu pelayanan yang berkualitas dan bisa diterima oleh konsumen dari waktu ke waktu secara tepat waktu atau dalam istilah bisnis penerbangan disebut on time performance. Salah satu faktor yang memicu traffic pertumbuhan penumpang domestik dewasa ini adalah dampak dari pasca pengeboman WTC di New York tahun 2001 tanggal 11 September , dimana setelah ledakan WTC tersebut terjadi suatu phobia ketakutan yang luar biasa pada masyarakat Amerika Serikat untuk bepergian dengan naik pesawat . Dampaknya industri angkutan udara di Amerika pada tahun 2001 jatuh bangkrut , banyak pesawat yang menganggur (grounded) . Rupanya peluang ini ditangkap oleh para industriawan transporatasi udara di Indonesia dengan ramai ramai menyewa secara murah pesawat jenis MD 82 yang pada tahun 2001 mulai diterbangkan oleh beberapa maskapai seperti Lion Air , Bouraq Airlines , Merpati . Karena sewa pesawat yang murah membawa dampak pada harga tiket yang sangat murahjuga kerena komponen sewa pesawat (leasing ) bisa mencapai 50% cost structure dari sebuah industri angkutan udara. Booming traffic penumpang pesawat udara sejak th.2001 sampai denagn sekarang terjadi , ini merupakan ancaman terhadap market leader Garuda Indonesia. Jadi hanya sebuah maskapai yang dikelola dengan manajemen yang solid , mempunyai produk produk unggulan serta kualitas pelayanan yang prima saja akan tetap eksis di market . Selain itu juga pertumbuhan perekonomian, khususnya di Indonesia yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan taraf hidup rakyat, konsekuensi yang dihadapi untuk semua produsen dituntut harus mampu menjual produk dan pelayanan yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat ataupun konsumen sebagai pengguna jasa. Dalam bisnis jasa angkutan angkutan udara dewasa ini , oleh pemerintah sejak tahun 2001 telah dibuka deregulasi Sistem penerbangan sipil (komersial ) di Indonesia, artinya semua investor diberi kesempatan yang sama untuk berusaha atau membuka bisnis jasa angkutan udara . Mulailah sejak tahun 2001 sampai tahun 2003 bertumbuhan lahir beberapa maskapai baru di Indonesia , sebut saja ada Lion Air, Awair , Citilink , Batavia air, Seulawah Air , Celebes Airline , Xpress Air , Sriwijaya Air , Adam Air , Kartika Airline , Jatayu Air dan masih banyak lagi. Pilihan masayarakat Indonesia untuk bepergian memanfaatkan transpotasi udara semakain terbuka lebar .Tinggal menyesuaikan anggaran yang dimiliki , mau memilih yang maskapai mana , tinggal konsumen yang paling menentukan .
Disamping itu data statistik jumlah penumpang domestik sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 tingkat pertumbuhannya rata rata per tahun sebesar 32,34 % suatu angka prosentase yang menggembirakan sehingga growth penumpang udara ini merupakan peluang bisnis jasa angkutan udara di Indonesia .
Adapun data statistik jumlah penumpang terlihat seperti tabel berikut ini :
Jumlah penumpang maskapai penerbangan yang diangkut dalam negeri (orang) diambil dari Laporan Tahunan Dit Jen Angkutan Udara , Dit Jend Hubungan Udara , RI :
Tabel 1.1. Traffic penumpang Pesawat Udara
airline 1999 2000 2001 2002 2003 2006 2007
Garuda 3.337.490 3.861.287 4.409.891 4.679.566 5.631.868 6.956.437 7.371.979
Merpati 1.493.521 1.690.805 1.951.237 2.305.186 3.408.613 1.701.137 2.653.853
Lion Air 43.455 181.684 833.883 3.078.858 6.638.264 6.536.276
Mandala 819.134 1.015.056 1.243.880 1.681.513 2.011.290 1.678.920 1.731.979
Bouraq 598.491 713.014 521.881 1.102.365 1.624.300
Star Air 77.548 373.610 699.315
Pelita 32.769 244.228 303.783 151.892 209.810 117.520
Dirgantara 116.845 123.444 127.896 107.269 108.538
Airmark 36.651 36.087 19.095
Bayu air 26.449 42.213 4.673
Awair 116.291 208.376 26.749
Kartika 51.215 45.674 263.093 59.619
Jatayu 71.359 360.609
Adam air 4.873.753 518.886
Wings air 2.021.888 2.351.703
Air asia 1.505.715 1.768.025
Trigana 627.979 736.027
Riau air 97.430 182.337
Sriwijaya 3.139.529 3.577.413

Jumlah 6.365.481 7.622.570 9.168.059 12.333.035 19.095.170 33.685.169 30.966.606

Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi Regional yang tumbuh secara cukup meyakinkan , dimana perdagangan intra negara ASEAN untuk angka- angka pertumbuhan angka Import dan Export nya sejak tahun 1986 menunjukkan angka perkembangan yang bagus. Seperti diulas oleh Warren J Keegan ,Global Marketing Management ,1989-153, Prentice Hall, Inc ,dikatakan Index Import Indonesia intra Asean sebesar 19,7 % dan Eksport Intra Asean sebesar 13,9% . Jadi tingkat pertumbuhan ekonomi Regional dan disertai kondisi internal regulasi Penerbangan Indonesia yang kondusif mendorong lahirnya pula beberapa maskapai domestik yang baru.
Situasi permintaan ( demand) seat yang banyak ini , berakibat maskapai berlomba lomba untuk meningkatkan kualitas pelayanannya mengingat kompetisi sesama maskapai semakin sengit. Maka disini mulailah konsep produk oriented harus ditinggalkan , konsep baru yang lebih cocok sekarang ini adalah market atau customer oriented , unsur kepuasan pelanggan harus diutamakan

.

Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara ,2 maskapai BUMN bahu membahu mempertahankan market share nya di pasar domestik, photo diambil penulis di bandara Selaparang,Mataram th.2003.

Era munculnya penerbangan ekonomis di Indonesia
Dalam era globalisasi ekonomi termasuk didalamnya kebijakan open sky policy di hampir semua negara dewasa ini secara langsung akan mempengaruhi perkembangan dalam dunia angkutan teranspotasi udara , dimana tingkat persaingan berada dalam situasi hiperkompetitif. Untuk mengimbangi percepatan perubahan sistim perdagangan dunia maupun Nasional maka diperlukan pula perubahan dalam sistim angkutan utamanya angkutan udara baik perubahan perilaku pelanggan apakah dalam hal waktu dan kecepatan dan pilihan harga. Dengan semakin pesatnya arus perubahan, maka sangat diperlukan suatu terobosan guna mengantisipasi persaingan dan maraknya perusahaan maskapai asing yang masuk dalam kancah persaingan didalam Negeri. Untuk itu perlu disusun suatu strategi pemasaran termasuk di dalamya aspek pelayanan yang paling baik untuk dapat mempertahankan pelanggan karena tak ada satupun bisnis yang bisa bertahan tanpa adanya pelanggan yang puas. Hanya produk yang kompetitif dan bermutu tinggi memenuhi kegunaan dan kebutuhan konsumen yang dapat bertahan di pasar. Perusahaan sebagai penjual produk jasa angkutan harus sanggup menawarkan dengan mutu pelayanan yang berkualitas dan bisa diterima oleh konsumen dari waktu ke waktu secara tepat waktu atau dalam istilah bisnis penerbangan disebut on time performance. Salah satu faktor yang memicu traffic pertumbuhan penumpang domestik dewasa ini adalah dampak dari pasca pengeboman WTC di New York tahun 2001 tanggal 11 September , dimana setelah ledakan WTC tersebut terjadi suatu phobia ketakutan yang luar biasa pada masyarakat Amerika Serikat untuk bepergian dengan naik pesawat . Dampaknya industri angkutan udara di Amerika pada tahun 2001 jatuh bangkrut , banyak pesawat yang menganggur (grounded) . Rupanya peluang ini ditangkap oleh para industriawan transporatasi udara di Indonesia dengan ramai ramai menyewa secara murah pesawat jenis MD 82 yang pada tahun 2001 mulai diterbangkan oleh beberapa maskapai seperti Lion Air , Bouraq Airlines , Merpati . Karena sewa pesawat yang murah membawa dampak pada harga tiket yang sangat murahjuga kerena komponen sewa pesawat (leasing ) bisa mencapai 50% cost structure dari sebuah industri angkutan udara. Booming traffic penumpang pesawat udara sejak th.2001 sampai denagn sekarang terjadi , ini merupakan ancaman terhadap market leader Garuda Indonesia. Jadi hanya sebuah maskapai yang dikelola dengan manajemen yang solid , mempunyai produk produk unggulan serta kualitas pelayanan yang prima saja akan tetap eksis di market . Selain itu juga pertumbuhan perekonomian, khususnya di Indonesia yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan taraf hidup rakyat, konsekuensi yang dihadapi untuk semua produsen dituntut harus mampu menjual produk dan pelayanan yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat ataupun konsumen sebagai pengguna jasa. Dalam bisnis jasa angkutan angkutan udara dewasa ini , oleh pemerintah sejak tahun 2001 telah dibuka deregulasi Sistem penerbangan sipil (komersial ) di Indonesia, artinya semua investor diberi kesempatan yang sama untuk berusaha atau membuka bisnis jasa angkutan udara . Mulailah sejak tahun 2001 sampai tahun 2003 bertumbuhan lahir beberapa maskapai baru di Indonesia , sebut saja ada Lion Air, Awair , Citilink , Batavia air, Seulawah Air , Celebes Airline , Xpress Air , Sriwijaya Air , Adam Air , Kartika Airline , Jatayu Air dan masih banyak lagi. Pilihan masayarakat Indonesia untuk bepergian memanfaatkan transpotasi udara semakain terbuka lebar .Tinggal menyesuaikan anggaran yang dimiliki , mau memilih yang maskapai mana , tinggal konsumen yang paling menentukan .
Disamping itu data statistik jumlah penumpang domestik sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 tingkat pertumbuhannya rata rata per tahun sebesar 32,34 % suatu angka prosentase yang menggembirakan sehingga growth penumpang udara ini merupakan peluang bisnis jasa angkutan udara di Indonesia .
Adapun data statistik jumlah penumpang terlihat seperti tabel berikut ini :
Jumlah penumpang maskapai penerbangan yang diangkut dalam negeri (orang) diambil dari Laporan Tahunan Dit Jen Angkutan Udara , Dit Jend Hubungan Udara , RI :
Tabel 1.1. Traffic penumpang Pesawat Udara
airline 1999 2000 2001 2002 2003 2006 2007
Garuda 3.337.490 3.861.287 4.409.891 4.679.566 5.631.868 6.956.437 7.371.979
Merpati 1.493.521 1.690.805 1.951.237 2.305.186 3.408.613 1.701.137 2.653.853
Lion Air 43.455 181.684 833.883 3.078.858 6.638.264 6.536.276
Mandala 819.134 1.015.056 1.243.880 1.681.513 2.011.290 1.678.920 1.731.979
Bouraq 598.491 713.014 521.881 1.102.365 1.624.300
Star Air 77.548 373.610 699.315
Pelita 32.769 244.228 303.783 151.892 209.810 117.520
Dirgantara 116.845 123.444 127.896 107.269 108.538
Airmark 36.651 36.087 19.095
Bayu air 26.449 42.213 4.673
Awair 116.291 208.376 26.749
Kartika 51.215 45.674 263.093 59.619
Jatayu 71.359 360.609
Adam air 4.873.753 518.886
Wings air 2.021.888 2.351.703
Air asia 1.505.715 1.768.025
Trigana 627.979 736.027
Riau air 97.430 182.337
Sriwijaya 3.139.529 3.577.413

Jumlah 6.365.481 7.622.570 9.168.059 12.333.035 19.095.170 33.685.169 30.966.606

Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi Regional yang tumbuh secara cukup meyakinkan , dimana perdagangan intra negara ASEAN untuk angka- angka pertumbuhan angka Import dan Export nya sejak tahun 1986 menunjukkan angka perkembangan yang bagus. Seperti diulas oleh Warren J Keegan ,Global Marketing Management ,1989-153, Prentice Hall, Inc ,dikatakan Index Import Indonesia intra Asean sebesar 19,7 % dan Eksport Intra Asean sebesar 13,9% . Jadi tingkat pertumbuhan ekonomi Regional dan disertai kondisi internal regulasi Penerbangan Indonesia yang kondusif mendorong lahirnya pula beberapa maskapai domestik yang baru.
Situasi permintaan ( demand) seat yang banyak ini , berakibat maskapai berlomba lomba untuk meningkatkan kualitas pelayanannya mengingat kompetisi sesama maskapai semakin sengit. Maka disini mulailah konsep produk oriented harus ditinggalkan , konsep baru yang lebih cocok sekarang ini adalah market atau customer oriented , unsur kepuasan pelanggan harus diutamakan

.

Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara ,2 maskapai BUMN bahu membahu mempertahankan market share nya di pasar domestik, photo diambil penulis di bandara Selaparang,Mataram th.2003.

Edition Availability
Cover of: Booming Terbang
Booming Terbang
2009, Kala Publisher Sidoarjo east Java Indonesia -ISBN-978-602-95329_0_6

Add another edition?

Book Details


Table of Contents

Era munculnya penerbangan ekonomis di Indonesia
Dalam era globalisasi ekonomi termasuk didalamnya kebijakan open sky policy di hampir semua negara dewasa ini secara langsung akan mempengaruhi perkembangan dalam dunia angkutan teranspotasi udara , dimana tingkat persaingan berada dalam situasi hiperkompetitif. Untuk mengimbangi percepatan perubahan sistim perdagangan dunia maupun Nasional maka diperlukan pula perubahan dalam sistim angkutan utamanya angkutan udara baik perubahan perilaku pelanggan apakah dalam hal waktu dan kecepatan dan pilihan harga.
Dengan semakin pesatnya arus perubahan, maka sangat diperlukan suatu terobosan guna mengantisipasi persaingan dan maraknya perusahaan maskapai asing yang masuk dalam kancah persaingan didalam Negeri.
Untuk itu perlu disusun suatu strategi pemasaran termasuk di dalamya aspek pelayanan yang paling baik untuk dapat mempertahankan pelanggan karena tak ada satupun bisnis yang bisa bertahan tanpa adanya pelanggan yang puas. Hanya produk yang kompetitif dan bermutu tinggi memenuhi kegunaan dan kebutuhan konsumen yang dapat bertahan di pasar. Perusahaan sebagai penjual produk jasa angkutan harus sanggup menawarkan dengan mutu pelayanan yang berkualitas dan bisa diterima oleh konsumen dari waktu ke waktu secara tepat waktu atau dalam istilah bisnis penerbangan disebut on time performance. Salah satu faktor yang memicu traffic pertumbuhan penumpang domestik dewasa ini adalah dampak dari pasca pengeboman WTC di New York tahun 2001 tanggal 11 September , dimana setelah ledakan WTC tersebut terjadi suatu phobia ketakutan yang luar biasa pada masyarakat Amerika Serikat untuk bepergian dengan naik pesawat . Dampaknya industri angkutan udara di Amerika pada tahun 2001 jatuh bangkrut , banyak pesawat yang menganggur (grounded) . Rupanya peluang ini ditangkap oleh para industriawan transporatasi udara di Indonesia dengan ramai ramai menyewa secara murah pesawat jenis MD 82 yang pada tahun 2001 mulai diterbangkan oleh beberapa maskapai seperti Lion Air , Bouraq Airlines , Merpati . Karena sewa pesawat yang murah membawa dampak pada harga tiket yang sangat murahjuga kerena komponen sewa pesawat (leasing ) bisa mencapai 50% cost structure dari sebuah industri angkutan udara. Booming traffic penumpang pesawat udara sejak th.2001 sampai denagn sekarang terjadi , ini merupakan ancaman terhadap market leader Garuda Indonesia. Jadi hanya sebuah maskapai yang dikelola dengan manajemen yang solid , mempunyai produk produk unggulan serta kualitas pelayanan yang prima saja akan tetap eksis di market .
Selain itu juga pertumbuhan perekonomian, khususnya di Indonesia yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan taraf hidup rakyat, konsekuensi yang dihadapi untuk semua produsen dituntut harus mampu menjual produk dan pelayanan yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat ataupun konsumen sebagai pengguna jasa.
Dalam bisnis jasa angkutan angkutan udara dewasa ini , oleh pemerintah sejak tahun 2001 telah dibuka deregulasi Sistem penerbangan sipil (komersial ) di Indonesia, artinya semua investor diberi kesempatan yang sama untuk berusaha atau membuka bisnis jasa angkutan udara . Mulailah sejak tahun 2001 sampai tahun 2003 bertumbuhan lahir beberapa maskapai baru di Indonesia , sebut saja ada Lion Air, Awair , Citilink , Batavia air, Seulawah Air , Celebes Airline , Xpress Air , Sriwijaya Air , Adam Air , Kartika Airline , Jatayu Air dan masih banyak lagi. Pilihan masayarakat Indonesia untuk bepergian memanfaatkan transpotasi udara semakain terbuka lebar .Tinggal menyesuaikan anggaran yang dimiliki , mau memilih yang maskapai mana , tinggal konsumen yang paling menentukan .
Disamping itu data statistik jumlah penumpang domestik sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 tingkat pertumbuhannya rata rata per tahun sebesar 32,34 % suatu angka prosentase yang menggembirakan sehingga growth penumpang udara ini merupakan peluang bisnis jasa angkutan udara di Indonesia .
Adapun data statistik jumlah penumpang terlihat seperti tabel berikut ini :
Jumlah penumpang maskapai penerbangan yang diangkut dalam negeri (orang) diambil dari Laporan Tahunan Dit Jen Angkutan Udara , Dit Jend Hubungan Udara , RI :
Tabel 1.1. Traffic penumpang Pesawat Udara
airline 1999 2000 2001 2002 2003 2006 2007
Garuda 3.337.490 3.861.287 4.409.891 4.679.566 5.631.868 6.956.437 7.371.979
Merpati 1.493.521 1.690.805 1.951.237 2.305.186 3.408.613 1.701.137 2.653.853
Lion Air 43.455 181.684 833.883 3.078.858 6.638.264 6.536.276
Mandala 819.134 1.015.056 1.243.880 1.681.513 2.011.290 1.678.920 1.731.979
Bouraq 598.491 713.014 521.881 1.102.365 1.624.300
Star Air 77.548 373.610 699.315
Pelita 32.769 244.228 303.783 151.892 209.810 117.520
Dirgantara 116.845 123.444 127.896 107.269 108.538
Airmark 36.651 36.087 19.095
Bayu air 26.449 42.213 4.673
Awair 116.291 208.376 26.749
Kartika 51.215 45.674 263.093 59.619
Jatayu 71.359 360.609
Adam air 4.873.753 518.886
Wings air 2.021.888 2.351.703
Air asia 1.505.715 1.768.025
Trigana 627.979 736.027
Riau air 97.430 182.337
Sriwijaya 3.139.529 3.577.413
Jumlah 6.365.481 7.622.570 9.168.059 12.333.035 19.095.170 33.685.169 30.966.606
Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi Regional yang tumbuh secara cukup meyakinkan , dimana perdagangan intra negara ASEAN untuk angka- angka pertumbuhan angka Import dan Export nya sejak tahun 1986 menunjukkan angka perkembangan yang bagus. Seperti diulas oleh Warren J Keegan ,Global Marketing Management ,1989-153, Prentice Hall, Inc ,dikatakan Index Import Indonesia intra Asean sebesar 19,7 % dan Eksport Intra Asean sebesar 13,9% . Jadi tingkat pertumbuhan ekonomi Regional dan disertai kondisi internal regulasi Penerbangan Indonesia yang kondusif mendorong lahirnya pula beberapa maskapai domestik yang baru.
Situasi permintaan ( demand) seat yang banyak ini , berakibat maskapai berlomba lomba untuk meningkatkan kualitas pelayanannya mengingat kompetisi sesama maskapai semakin sengit. Maka disini mulailah konsep produk oriented harus ditinggalkan , konsep baru yang lebih cocok sekarang ini adalah market atau customer oriented , unsur kepuasan pelanggan harus diutamakan
.
Garuda Indonesia dan Merpati Nusantara ,2 maskapai BUMN bahu membahu mempertahankan market share nya di pasar domestik, photo diambil penulis di bandara Selaparang,Mataram th.2003.
Era munculnya penerbangan ekonomis di Indonesia
Dalam era globalisasi ekonomi termasuk didalamnya kebijakan open sky policy di hampir semua negara dewasa ini secara langsung akan mempengaruhi perkembangan dalam dunia angkutan teranspotasi udara , dimana tingkat persaingan berada dalam situasi hiperkompetitif. Untuk mengimbangi percepatan perubahan sistim perdagangan dunia maupun Nasional maka diperlukan pula perubahan dalam sistim angkutan utamanya angkutan udara baik perubahan perilaku pelanggan apakah dalam hal waktu dan kecepatan dan pilihan harga.
Dengan semakin pesatnya arus perubahan, maka sangat diperlukan suatu terobosan guna mengantisipasi persaingan dan maraknya perusahaan maskapai asing yang masuk dalam kancah persaingan didalam Negeri.
Untuk itu perlu disusun suatu strategi pemasaran termasuk di dalamya aspek pelayanan yang paling baik untuk dapat mempertahankan pelanggan karena tak ada satupun bisnis yang bisa bertahan tanpa adanya pelanggan yang puas. Hanya produk yang kompetitif dan bermutu tinggi memenuhi kegunaan dan kebutuhan konsumen yang dapat bertahan di pasar. Perusahaan sebagai penjual produk jasa angkutan harus sanggup menawarkan dengan mutu pelayanan yang berkualitas dan bisa diterima oleh konsumen dari waktu ke waktu secara tepat waktu atau dalam istilah bisnis penerbangan disebut on time performance. Salah satu faktor yang memicu traffic pertumbuhan penumpang domestik dewasa ini adalah dampak dari pasca pengeboman WTC di New York tahun 2001 tanggal 11 September , dimana setelah ledakan WTC tersebut terjadi suatu phobia ketakutan yang luar biasa pada masyarakat Amerika Serikat untuk bepergian dengan naik pesawat . Dampaknya industri angkutan udara di Amerika pada tahun 2001 jatuh bangkrut , banyak pesawat yang menganggur (grounded) . Rupanya peluang ini ditangkap oleh para industriawan transporatasi udara di Indonesia dengan ramai ramai menyewa secara murah pesawat jenis MD 82 yang pada tahun 2001 mulai diterbangkan oleh beberapa maskapai seperti Lion Air , Bouraq Airlines , Merpati . Karena sewa pesawat yang murah membawa dampak pada harga tiket yang sangat murahjuga kerena komponen sewa pesawat (leasing ) bisa mencapai 50% cost structure dari sebuah industri angkutan udara. Booming traffic penumpang pesawat udara sejak th.2001 sampai denagn sekarang terjadi , ini merupakan ancaman terhadap market leader Garuda Indonesia. Jadi hanya sebuah maskapai yang dikelola dengan manajemen yang solid , mempunyai produk produk unggulan serta kualitas pelayanan yang prima saja akan tetap eksis di market .
Selain itu juga pertumbuhan perekonomian, khususnya di Indonesia yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan taraf hidup rakyat, konsekuensi yang dihadapi untuk semua produsen dituntut harus mampu menjual produk dan pelayanan yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat ataupun konsumen sebagai pengguna jasa.
Dalam bisnis jasa angkutan angkutan udara dewasa ini , oleh pemerintah sejak tahun 2001 telah dibuka deregulasi Sistem penerbangan sipil (komersial ) di Indonesia, artinya semua investor diberi kesempatan yang sama untuk berusaha atau membuka bisnis jasa angkutan udara . Mulailah sejak tahun 2001 sampai tahun 2003 bertumbuhan lahir beberapa maskapai baru di Indonesia , sebut saja ada Lion Air, Awair , Citilink , Batavia air, Seulawah Air , Celebes Airline , Xpress Air , Sriwijaya Air , Adam Air , Kartika Airline , Jatayu Air dan masih banyak lagi. Pilihan masayarakat Indonesia untuk bepergian memanfaatkan transpotasi udara semakain terbuka lebar .Tinggal menyesuaikan anggaran yang dimiliki , mau memilih yang maskapai mana , tinggal konsumen yang paling menentukan .
Disamping itu data statistik jumlah penumpang domestik sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2003 tingkat pertumbuhannya rata rata per tahun sebesar 32,34 % suatu angka prosentase yang menggembirakan sehingga growth penumpang udara ini merupakan peluang bisnis jasa angkutan udara di Indonesia .
Adapun data statistik jumlah penumpang terlihat seperti tabel berikut ini :
Jumlah penumpang maskapai penerbangan yang diangkut dalam negeri (orang) diambil dari Laporan Tahunan Dit Jen Angkutan Udara , Dit Jend Hubungan Udara , RI :
Tabel 1.1. Traffic penumpang Pesawat Udara
airline 1999 2000 2001 2002 2003 2006 2007
Garuda 3.337.490 3.861.287 4.409.891 4.679.566 5.631.868 6.956.437 7.371.979
Merpati 1.493.521 1.690.805 1.951.237 2.305.186 3.408.613 1.701.137 2.653.853
Lion Air 43.455 181.684 833.883 3.078.858 6.638.264 6.536.276
Mandala 819.134 1.015.056 1.243.880 1.681.513 2.011.290 1.678.920 1.731.979
Bouraq 598.491 713.014 521.881 1.102.365 1.624.300
Star Air 77.548 373.610 699.315
Pelita 32.769 244.228 303.783 151.892 209.810 117.520
Dirgantara 116.845 123.444 127.896 107.269 108.538
Airmark 36.651 36.087 19.095
Bayu air 26.449 42.213 4.673
Awair 116.291 208.376 26.749
Kartika 51.215 45.674 263.093 59.619
Jatayu 71.359 360.609
Adam air 4.873.753 518.886
Wings air 2.021.888 2.351.703
Air asia 1.505.715 1.768.025
Trigana 627.979 736.027
Riau air 97.430 182.337
Sriwijaya 3.139.529 3.577.413
Jumlah 6.365.481 7.622.570 9.168.059 12.333.035 19.095.170 33.685.169 30.966.606
Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi Regional yang tumbuh secara cukup meyakinkan , dimana perdagangan intra negara ASEAN untuk angka- angka pertumbuhan angka Import dan Export nya sejak tahun 1986 menunjukkan angka perkembangan yang bagus. Seperti diulas oleh Warren J Keegan ,Global Marketing Management ,1989-153, Prentice Hall, Inc ,dikatakan Index Import Indonesia intra Asean sebesar 19,7 % dan Eksport Intra Asean sebesar 13,9% . Jadi tingkat pertumbuhan ekonomi Regional dan disertai kondisi internal regulasi Penerbangan Indonesia yang kondusif mendorong lahirnya pula beberapa maskapai domestik yang baru.
Situasi permintaan ( demand) seat yang banyak ini , berakibat maskapai berlomba lomba untuk meningkatkan kualitas pelayanannya mengingat kompetisi sesama maskapai semakin sengit. Maka disini mulailah konsep produk oriented harus ditinggalkan , konsep baru yang lebih cocok sekarang ini adalah market atau customer oriented , unsur kepuasan pelanggan harus diutamakan

Edition Identifiers

Open Library
OL24786920M

Work Identifiers

Work ID
OL15878395W

Community Reviews (0)

No community reviews have been submitted for this work.

Lists

Download catalog record: RDF / JSON